Pages

Selasa, 07 Mei 2013

Contoh Soal dan Pembahasan Hubungan Panjang Sisi Dengan Besar Sudut Pada Segitiga


Contoh Soal dan Pembahasan Hubungan Panjang Sisi Dengan Besar Sudut Pada Segitiga


Contoh soal dan pembahasan materi matematika smp kelas 7 semester 2 tentang hubungan panjang sisi dengan besar sudut pada segitiga.

Soal 1.
Diketahui sudut suatu segitiga PQR berbanding ∠ P :∠ Q : ∠ R = 9 : 5 : 4.
Tentukan
a. besar ∠P, ∠Q, dan ∠R;
b. sudut yang terbesar;
c. sudut yang terkecil;
d. sisi yang terpanjang;
e. sisi yang terpendek.
f. Jenis segitiga PQR

Jawab:
a. Untuk mencari besar ∠P, ∠Q, dan ∠R dapat dicari dengan cara berikut. Misal ∠ P : ∠ Q : ∠ R = 9x : 5x : 4x, maka
∠ P : ∠ Q : ∠ R = 180°
9x : 5x : 4x = 180°
18x = 180°
x = 10°
setelah ketemu x maka besarnya sudut:
∠ P = 9x = 9.10°= 90°
∠ Q = 5x = 5. 10° = 50°
∠ R = 4x = 4. 10° = 40°
Jadi besar ∠P, ∠Q, dan ∠R berturut-turut adalah 90°, 50° dan 40°

b. sudut yang terbesar adalah ∠ P

c. sudut yang terkecil adalah ∠ R

d. Berdasarkan sifat-sifat segitiga maka sisi yang terpanjang adalah sisi yang berhadapan dengan sudut terbesar, maka sisi yang terpanjang berada pada sisi p

e. Berdasarkan sifat-sifat segitiga maka sisi yang terpendek adalah sisi yang berhadapan dengan sudut terkecil, maka sisi yang terpendek berada pada sisi r

f. Karena salah satu sudutnya adalah 90° maka jenis segitiga tersebut adalah segitiga siku-siku.

Soal 2.
Perhatikan gambar di bawah ini.

Contoh Soal dan Pembahasan Hubungan Panjang Sisi Dengan Besar Sudut Pada Segitiga

Tentukan nilai w°, x°, y°, dan z°.

Jawab:
Sudut w° dengan sudut 85° merupakan sudut berpelurus, maka:
w° + 85° = 180°
w° = 180° - 85°
w° = 95°

Besar sudut x° dapat dicari dengan menggunakan konsep jumlah sudut-sudut segitiga yaitu
85° + 35° + x° = 180°
x° = 180° - 85° - 35°
x° = 60°

Sudut y° dengan sudut x° merupakan sudut berpelurus, maka:
y° + x° = 180°
y° + 60° = 180°
y° = 180° - 60°
y° = 120°

Sudut z° dengan sudut 35° merupakan sudut berpelurus, maka:
z° + 35° = 180°
y° = 180° - 35°
y° = 145°
Jadi nilai w°, x°, y°, dan z° berturut-turut adalah 95°, 60°, 120° dan 145°

Soal 3.
Perhatikan gambar di bawah ini.

Contoh Soal dan Pembahasan Hubungan Panjang Sisi Dengan Besar Sudut Pada Segitiga
Hitunglah
a. nilai x°;
b. besar ∠SPR;
c. besar ∠PRQ.

Jawab
a. ∠SPR dengan ∠QPR merupakan sudut berpelurus, maka:
3x° + x° = 180°
4x° = 180°
x° = 45°

b. besar ∠SPR = 3x° = 3. 45° = 135°

c. Besar ∠PRQ dapat dicari dengan menggunakan konsep jumlah sudut-sudut segitiga yaitu:
∠QPR  + ∠PQR + ∠PQR = 180°
x°  + 80° + ∠PQR = 180°
45°  + 80° + ∠PQR = 180°
∠PQR = 180° - 45°  - 80°
∠PQR = 65°

Soal 4.
Perhatikan gambar berikut.

Contoh Soal dan Pembahasan Hubungan Panjang Sisi Dengan Besar Sudut Pada Segitiga

Pada gambar tersebut ∠B1 = ∠B2, ∠C3 = ∠C4, ∠A = 70°, dan ∠B = 60°. Hitunglah
a. besar ∠C3 + ∠C4;
b. besar ∠B2;
c. besar ∠D.

Jawab:
Dengan menggunakan konsep jumlah sudut-sudut segitiga maka ∠ACB dapat dicari yakni:
 ∠ACB + ∠ABC + ∠BAC = 180°
∠ACB + 60° + 70° = 180°
∠ACB = 180°- 60° - 70°
∠ACB = 50°

a. besar ∠C3 + ∠C4 = ∠ACE, ∠ACB dengan ∠ACE merupakan sudut berpelurus, maka:
∠ACB + ∠ACE = 180°
50° + ∠ACE = 180°
∠ACE = 180° - 50°
∠ACE = 130°
Jadi besar ∠C3 + ∠C4 =130°

b. Karena ∠B1 = ∠B2 dan ∠B = 60° maka
∠B1 + ∠B2 = 60°
∠B2 + ∠B2 = 60°
2∠B2 = 60°
∠B2 = 30°

c. ∠C3 + ∠C4 =130°, karena ∠C3 = ∠C4 maka
 ∠C3 + ∠C3 =130°
2∠C3 = 130°
∠C3 = 65°
besar ∠D = ∠BDC dapat dicari dengan konsep jumlah sudut-sudut segitiga yaitu:
∠BDC + ∠CBD + ∠ACB + ∠ACD = 180°
∠BDC + ∠CBD + ∠ACB + ∠C3 = 180°
∠BDC + 50° + 30 + 65° = 180°
∠BDC = 180°- 50° - 30 - 65°
∠BDC = 35°
Jadi besar ∠D = ∠BDC = 35°

Contoh Soal dan Pembahasan Keliling dan luas Trapesium


Contoh Soal dan Pembahasan Keliling dan luas Trapesium


Sebelum Anda mempelajari soal berikut ini, alangkah baiknya anda mempelajari terlebih dahulu materi luas dan keliling trapesium. Pelajari cara mencari rumus keliling dan luas trapesium agar tidak terjadi miskonsepsi nantinya. Kalau sudah mempelajari teorinya berikut Ling Lyng Online berikan contoh soal dengan pembahasannya tentang cara mencari keliling dan luas trapesium.

Soal 1
Tentukan luas dari masing-masing trapesium pada gambar berikut.



Penyelesaian:
a. Perhatikan gambar (i) seperti gambar di bawah ini.


Dari gambar tersebut diketahui: AD = CE = 6 cm dan AB = CD = 10 cm. Untuk mencari luas bangun trapesium (i) terlebih dahulu harus mencari panjang BC, panjang BC akan didapat jika panjang DE diketahui. Untuk mencari panjang DE kita gunakan rumus phytagoras, yaitu:
DE = √(CD2 – CE2)
DE = √(102 – 62)
DE = √(100 – 36)
DE = √64
DE = 8 cm

karena bangun trapesium (i) merupakan trapesium sama kaki, maka:
BC = AD + 2 x DE
BC = 6 cm + 2 x 8 cm
BC = 22 cm

Untuk mencari luas trapseium (i) kita gunakan rumus luas trapesium yaitu:
Luas = ½ x (AD + BC) x t
Luas = ½ x (6 cm + 22 cm) x 8 cm
Luas = 112 cm2

b. Perhatikan gambar (ii) seperti di bawah ini.


Dari gambar tersebut diketahui: BC = CD = 8 cm, AD = 10 cm dan EB = 14 cm. Untuk mencari luas bangun trapesium (ii) terlebih dahulu harus mencari panjang AE. Untuk mencari panjang AE kita gunakan rumus phytagoras, yaitu:
AE = √(AD2 – CD2)
AE = √(102 – 82)
AE = √(100 – 64)
AE = √36
AE = 6 cm

Setelah didapat panjang AE, maka panjang AB:
AB = AE + EB
AB = 6 cm + 14 cm
AB = 20 cm

Untuk mencari luas trapseium (ii) kita gunakan rumus luas trapesium yaitu:
Luas = ½ x (CD + AB) x t
Luas = ½ x (8 cm + 20 cm) x 8 cm
Luas = 112 cm2

c. Perhatikan gambar (iii) seperti di bawah ini.


Dari gambar tersebut diketahui: BF = 8 cm, AD = CD = 5 cm dan ED = 3 cm. Untuk mencari luas bangun trapesium (iii) terlebih dahulu harus mencari tinggi AE dan panjang AF. Untuk mencari tinggi AE kita gunakan rumus phytagoras, yaitu:
AE = √(AD2 – DE2)
AE = √(52 – 32)
AE = √(25 – 9)
AE = √16
AE = 4 cm

AB = CD + DE + FB
AB = 5 cm + 3 cm + 8 cm
AB = 16 cm

Untuk mencari luas trapseium (i) kita gunakan rumus luas trapesium yaitu:
Luas = ½ x (CD + AB) x t
Luas = ½ x (16 cm + 5 cm) x 4 cm
Luas = 42 cm2

d. Perhatikan gambar (iv) seperti di bawah ini.


Untuk mencari luas trapseium (iv) kita gunakan rumus luas trapesium yaitu:
Luas = ½ x (CB + AD) x AE
Luas = ½ x (9 cm + 4 cm) x 12 cm
Luas = 78 cm2

Soal 2
Perbandingan panjang sisi sejajar pada sebuah trapesium sama kaki adalah 1 : 4. Diketahui besar sudut pada salah kaki trapesium adalah 60°, panjang kaki trapesium = 10 cm, tinggi = 8 cm, dan luasnya 80 cm2. Tentukan
a. besar sudut yang belum diketahui;
b. panjang sisi-sisi yang sejajar;
c. keliling trapesium.

Penyelesaian:
Berdasarkan soal no 2 jika digambarkan akan terlihat seperti gambar berikut.


a. Berdasarkan gambar di atas kita akan mencari sudut-sudut yang belum diketahui
∠CBF = ∠DAE = 60°
∠ADE = ∠BCF = 180° - ∠DAE - 90°
∠ADE = ∠BCF = 180° - 60° - 90°
∠ADE = ∠BCF = 30°
∠ADC = ∠BCF = 90° + ∠ADE
∠ADC = ∠BCF = 90° + 30°
∠ADC = ∠BCF = 120°

b. Untuk mencari panjang sisi-sisi yang yang sejajar dapat digunakan rumus luas segitiga dan persegi panjang, tetapi sebelum itu kita harus mencari panjang AE dengan rumus phytagoras:
AE = √(AD2 – DE2)
AE = √(102 – 82)
AE = √(100 – 64)
AE = √36
AE =6 cm

Luas total = 2 x Luas Î”ADE + Luas CDEF
Luas CDEF = Luas total - 2 x Luas Î”ADE
Luas CDEF = 80 cm2- 2 x ½ x AE x DE
Luas CDEF = 80 cm2- 2 x ½ x 6 cm x 8 cm
Luas CDEF = 80 cm2- 48 cm2
Luas CDEF = 32 cm2

sekarang akan cari panjang EF = CD yaitu
Luas CDEF = CD x DE
32 cm2 = DC x 8 cm
CD = 4 cm

Panjang AB = AE + EF + BF
Panjang AB = 6 cm+ 4 cm + 6 cm
Panjang AB = 16 cm

c. Keliling trapesium dapat dicari dengan menjumlahkan seluruh sisi trapesium tersebut.
Keliling = 2 x AD + AB + CD
Keliling = 2 x 10 cm + 16 cm + 4 cm
Keliling = 40 cm

Soal 3
Perhatikan gambar berikut.


Pada gambar di atas diketahui trapesium PQRS sama kaki dengan PS = QR, PQ = 48 cm, SR = 26 cm, dan∠SPM = ∠RQN = 45°. Tentukan
a. besar ∠MSP dan ∠RNQ,
b. panjang MN,
c. panjang PM, QN, dan t,
d. luas PQRS.

Penyelesaian:
a. besar ∠MSP dan ∠RNQ adalah:
∠MSP = 180° - ∠PMS - ∠MPS
∠MSP = 180° - 90° - 45°
∠MSP = 45°

∠RNQ = ∠PMS = 90°
Jadi besar ∠MSP dan ∠RNQ adalah 45° dan 90°

b. panjang MN = SR = 26 cm

c. panjang PM, QN, dan t, adalah sebagai berikut.
PM = QN
PM = PQ – MN – QN
PM = 48 cm – 26 cm –PM
2PM = 22 cm
PM = 22 cm/2
PM = QN = t = 11 cm


d. Luas trapsesium PQRS adalah:
luas PQRS = ½ x (PQ+SR) x t
luas PQRS = ½ x (48 cm + 26 cm) x 11 cm
luas PQRS = 407 cm2

Soal 4
Sebuah trapesium, panjang sisi-sisi sejajar adalah 12 cm dan 8 cm serta tinggi 5 cm. Hitunglah luas trapesium tersebut.

Penyelesaian:
Luas = ½ x (a1 + a2) x t
Luas = ½ x (12 cm + 8 cm) x 5 cm
Luas = 50 cm2

Soal 5
Diketahui trapesium ABCD, lihat gambar di bawah ini, CD = 8 cm,  Tinggi = 10 cm, dan BC = 12 cm.  Hitunglah luas trapesium ABCD.


Penyelesaian:
Dari gambar tersebut kita dapatkan bahwa AD = CD, DE=CF dan AE = BF. Untuk mencari luas trapesium tersebut terlebih dahulu cari panjang AB, tetapi sebelum mencari panjang AB kita akan mencari panjang AE dengan rumus Phytagoras yaitu:
AE = √(AD2 – DE2)
AE = √(122 – 102)
AE = √(144 – 100)
AE = √44
AE =6,6 cm
maka panjang AB adalah
AB = 2AE + EF
AB = 2 x 6,6 cm + 8 cm
AB = 21,2cm

Luas ABCD = ½ x (AB + CD) x t
Luas ABCD = ½ x (21,2 cm + 8 cm) x 10 cm
Luas ABCD = 146 cm2

Soal 6
Pada trapesium ABCD di bawah diketahui bahwa, AD = BC. Sudut A = 45°, panjang AB = 18 cm, dan CD = 10 cm. Tentukanlah tinggi dan luas trapesium.


Penyelesaian:

Perhatikan gambar di atas, Î”ADE merupakan segitiga siku-siku sama kaki (segitiga siku-siku yang salah satu sudutnya 45°), maka akan didapatkan AE = DE. Dalam hal ini AE = BF dan EF = CD, maka panjang AE dapat dicari:
AB =  AE + EF + BF
AE = AB – EF – BF
AE = 18 cm – 10 cm – AE
2AE = 8 cm
AE = 4 cm
AE = DE = 4 cm

Luas ABCD = ½ x (AB+CD) x DE
Luas ABCD = ½ x (18 cm +10 cm) x 4 cm
Luas ABCD = 56 cm2

Keliling Dan Luas Segitiga


Keliling Dan Luas Segitiga

Keliling Segitiga

Keliling suatu bangun datar merupakan jumlah dari panjang sisi-sisi yang membatasinya, sehingga untuk menghitung keliling dari sebuah segitiga dapat ditentukan dengan menjumlahkan panjang dari setiap sisi segitiga tersebut.

Keliling Î” ABC = AB + BC + AC
Keliling Î” ABC = c + a + b
Jadi, keliling Î” ABC adalah a + b + c.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut. Suatu segitiga dengan panjang sisi a, b, dan c, kelilingnya adalah:
K = a + b + c.

Luas Segitiga


Perhatikan Gambar di atas. Dalam menentukan luas Î” ABC di atas, dapat dilakukan dengan membuat garis bantuan sehingga terbentuk persegi panjang ABFE seperti Gambar di bawah ini. Dapatkah Anda membuktikan bahwa AC dan BC membagi persegi panjang ADCE dan BDCF menjadi dua sama besar?

Jika Anda dapat membuktikannya, kalian akan memperoleh bahwa Î” ADC sama dan sebangun dengan Î” AEC dan Î” BDC sama dan sebangun denganΔ BCF, sedemikian sehingga diperoleh:
luas Î” ADC = ½ x luas persegi panjang ADCE dan luas
luas Î” ADC = ½ x luas persegi panjang BDCF
luas Î” ADC = luas Î” ADC + luas Î” BDC
luas Î” ADC = ½ x luas ADC + ½ x luas Î” BDC
luas Î” ADC = ½ x AD x CD + ½ x BD x CD
luas Î” ADC = ½ CD x (AD + CD)
luas Î” ADC = ½ CD x AB
Secara umum luas segitiga dengan panjang alas a dan tinggi t adalah:
L = ½ alas x tinggi
L = ½ a x t

Contoh Soal



Pada Î” DEF di atas diketahui DE = 14 cm, DF = 21 cm, EG = 5 cm,
dan FG = 12 cm. Hitunglah keliling dan luas Î” DEF.

Penyelesaian:
EF2 = EG2 + FG2
EF2 = 52 + 122
EF2 = 25 + 144 = 169
EF = 13 cm
Keliling Î” DEF = DE + EF + DF
Keliling Î” DEF = 14 cm + 13 cm + 21 cm
Keliling Î” DEF = 48 cm

Luas DEF = 1/2 × DE × FG
Luas DEF = 1/2 × 14 × 12 = 84 cm

Jumat, 03 Mei 2013

Sifat-Sifat Garis Sejajar

Sifat-Sifat Garis Sejajar

Pada gambar di bawah ini, melalui dua buah titik yaitu titik A dan titik B dapat dibuat tepat satu garis, yaitu garis m. Selanjutnya, apabila dari titik C di luar garis m dibuat garis sejajar garis m yang melalui titik tersebut, ternyata hanya dapat dibuat tepat satu garis, yaitu garis n.


Berdasarkan uraian di atas, secara umum diperoleh sifat sebagai berikut. Melalui satu titik di luar sebuah garis dapat ditarik tepat satu garis yang sejajar dengan garis itu.

Selanjutnya perhatikan gambar di bawah ini. Pada gambar di bawah diketahui garis m sejajar dengan garis n (m // n) dan garis l memotong garis m di titik P. Apabila garis l yang memotong garis m di titik P diperpanjang maka garis l akan memotong garis n di satu titik, yaitu titik Q.


Jika sebuah garis memotong salah satu dari dua garis yang sejajar maka garis itu juga akan memotong garis yang kedua.

Sekarang, perhatikan Gambar di bawah ini. Pada gambar tersebut, mula-mula diketahui garis k sejajar dengan garis l dan garis m. Tampak bahwa garis k sejajar dengan garis l atau dapat ditulis k // l dan garis k sejajar dengan garis m, ditulis k // m. Karena k // l dan k // m, maka l // m. Hal ini berarti bahwa garis l sejajar dengan garis m.


Jika sebuah garis sejajar dengan dua garis lainnya maka kedua garis itu sejajar pula satu sama lain.

Pengertian Sudut dan Besar Sudut


Pengertian Sudut dan Besar Sudut

Pengertian Sudut


Agar kalian dapat memahami pengertian sudut, coba amati ujung sebuah meja, pojok sebuah pintu, atau jendela, berbentuk apakah ujung tersebut? Ujung sebuah meja atau pojok pintu dan jendela adalah salah satu contoh sudut.
Perhatikan Gambar di bawah ini. Suatu sudut dapat dibentuk dari suatu sinar yang diputar pada pangkal sinar. Sudut ABC pada gambar di samping adalah sudut yang dibentuk BC yang diputar dengan pusat B sehingga BC berputar sampai BA
. 
Ruas garis BA dan BC disebut kaki sudut, sedangkan titik pertemuan kaki-kaki sudut itu disebut titik sudut. Daerah yang dibatasi oleh kaki-kaki sudut, yaitu daerah ABC disebut daerah sudut. Untuk selanjutnya, daerah sudut ABC disebut besar sudut ABC. Sudut dinotasikan dengan “ ° ”. Sudut pada Gambar di atas dapat diberi nama
a. sudut ABC atau ∠ABC;
b. sudut CBA atau ∠CBA;
c. sudut B atau ∠B.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sudut adalah daerah yang dibentuk oleh pertemuan antara dua buah sinar atau dua buah garis lurus.

Besar Sudut
Besar suatu sudut dapat dinyatakan dalam satuan derajat (°), menit (‘), dan detik (“). Perhatikan jarum jam pada sebuah jam dinding. Untuk menunjukkan waktu 1 jam, maka jarum menit harus berputar 1 putaran penuh sebanyak 60 kali, atau dapat ditulis 1 jam = 60 menit. Adapun untuk menunjukkan waktu 1 menit, jarum detik harus berputar 1 putaran penuh sebanyak 60 kali, atau dapat ditulis 1 menit = 60 detik.
Hal ini juga berlaku untuk satuan sudut. Hubungan antara derajat (°), menit (‘), dan detik (“) dapat dituliskan sebagai berikut.
1° = 60’ atau 1’ = (1/60)°
1’ = 60” atau 1” = (1/60)’
1° = 60 x 60” = 3.600” atau 1’ = (1/3.600)°

Contoh soal tentang besarnya sudut

Tentukan kesamaan besar sudut berikut.
  1.  5o ° =  ...’
  2. 8’ = ...”
  3. 45,6o ° =  ...o ...’
  4. 48°48’ = ...o


Penyelesaian:
  1. Karena 1° = 60’ maka 5° = 5 x 60’ = 300’
  2. Karena 1’ = 60” maka 8’ = 8 x 60” = 480”
  3. 45,6° = 45° + 0,6°
    45,6° = 45° + (0,6 x 60’)
    45,6° = 45° + 36’
    45,6° = 45°36’

  4. 48°48’ = 48° + 48’
    48°48’ = 48° + (48/60)°
    48°48’ = 48° + 0,8°
    48°48’ = 48,8°

JENIS JENIS SUDUT


JENIS JENIS SUDUT


Secara umum, kita mengenal ada lima jenis sudut, adapun kelima jenis sudut tersebut adalah sebagai berikut

  1. sudut siku-siku;
  2. sudut lurus;
  3. sudut lancip;
  4. sudut tumpul;
  5. sudut refleks.

Perhatikan sudut yang dibentuk oleh kedua jarum jam jika jam menunjukkan pukul 9.00. Ternyata pada pukul 9.00, kedua jarum jam membentuk sudut siku-siku. Sudut siku-siku adalah sudut yang besarnya 90°. Sudut siku-siku dinotasikan dengan “ ” atau “ ”.Sekarang, putarlah jarum jam pendek ke angka 6, dengan jarum jam panjang tetap di angka 12. Tampak bahwa kedua jarum jam membentuk sudut lurus. Jika kalian perhatikan, sudut lurus dapat dibentuk dari dua buah sudut siku-siku yang berimpit. Sudut lurus adalah sudut yang besarnya 180°.Selain sudut siku-siku dan sudut lurus, masih terdapat sudut yang besarnya antara 0° dan 90°, antara 90° dan 180°, serta lebih dari 180°.
  1. Sudut yang besarnya antara 0° dan 90° disebut sudut lancip.
  1. Sudut yang besarnya antara 90° dan 180° disebut sudut tumpul.
  1. Sudut yang besarnya lebih dari 180° dan kurang dari 360° disebut sudut refleks.